Daftar Blog Saya

Rabu, 03 April 2013

IMADUDDIN ABDURRAHIM (1349- H / 1931- M)

    Salah seorang dari intelektual muslim terkemuka di Indonesia, penggagas pendirian ICMI dan seorang tokoh yang paling mewarnai kelompok muslim di Indonesia. Ia merupakan seorang pemikir yang Qur’anik, segala sesuatu berdasar Al Qur’an, dan dialah sebenarnya pemikir orsinil Indonesia yang mengkaji  al Qur’an dalam kajian yang sangat modern.

     Nama  Muhammad Imaduddin Abdurrahim. Lahir di  Langkat, yang dikenal sebagai kota dengan tradisi keislaman yang kuat. Ayahnya, H. Abdurrahim, seorang ulama yang pernah belajar di Al azhar Mesir, pernah menjadi  ketua Masyumi  dan sekaligus menjadi panglima  Hizbullah wilayah Langkat.

    Sejak sekolah menengah pertama (SMP) ia telah aktif di organisasai PII (Pelajar Islam Indonesia) dan ketika SMA ia  menjadi ketua PII di Sumatra Utara. Pada akhir tahun 1945 ia masuk Hisbullah, tetapi kemudian ia keluar dari ketentaraan itu untuk melanjutkan studinya.

    Pada tahun 1947 M, ia beserta keluarganya  mengungsi ke Aceh, karena ayahnya, H. Abdurrahim, adalah orang yang paling dicari oleh pemerintah Hindia Belanda. Di Kutaraja Aceh ini Imaduddin melanjutkan sekolahnya dan kemudian ke Bandung untuk studi di ITB (S1). Master (S2) dalam bidang elektro di Iowa State University Ames, Amerika Serikat, dan doktornya dalam bidang SDM.

    Imaduddin adalah seorang aktifis yang militan. Ia pernah menjadi asisten IIFSO (1975-1977), kemudian menjadi sekjennya (1977-1980). Ia juga adalah orang yang paling berpengaruh di HMI, seorang trainer yang hebat dan handal di organisasi ini.  Ia juga mendirikan LMD yang melatih mahasiswa-mahasiswa sehingga  menghasilkan kader-kader garis keras yang senantiasa mengoreksi pemerintah yang sempat menimbulkan perpecahan dengan rekan-rekannya di HMI yang berpancasila.

     Di ITB dimana ia mengajar,   ia juga menjadi pengurus masjid Salman ITB yang terkenal akan aktifitas-aktifitasnya. Karena dampak gerakan mahasiswa di kampus memperlihatkan aktifis-aktifis Salman, ia kemudian disingkirkan di ITB.
     Imaduddin  adalah orang yang paling berani dan lantang jika ada kedzaliman. Ia mengkritik rezim Orba yang berkuasa  waktu itu dan juga partai berkuasa Golkar baik melalui ceramah-ceramah maupun forum-forum diskusi. Pada banyak kesempatan ia mengatakan bahwa rezim yang berkuasa waktu itu  tidak jujur, korup dan zhalim. Ia kadang menyampaikan ceramah / pidato di forum-forum terbuka yang dihadiri banyak kalangan. Banyak orang yang mengkhawatirkan dan mengingatkannnya, tetapi ia tetap lantang, dan menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya  yang pantas dan patut ditakuti.    
     Ia adalah orang yang selalu menekankan pentingnya nilai-nilai tauhid dalam diri  seorang muslim. Karena dengan nilai-nilai tauhid inilah maka seorang muslim mencapai kemerdekaannya, sehingga tidak ada yang ditakuti selain Allah semata, yang mengikatnya hanyalah hukum-hukum ilahi.
      Pada tahun 1978 ia di tahan oleh rezim orba. Dalam tahanan bersama Dr. Subandrio, Bung Tomo dan beberapa tokoh lain, ia masih  memberikan kajian Islam secara intensif di penjara, bukan saja menghapal al Qur’an  tapi juga memberi da’wah kepada sesama tahanan yang kemudian sangat dikenang oleh Dr. Subandrio, seorang tokoh yang sangat berpengaruh di rezim Soekarno, tetapi kemudian dipenjara oleh Rezim soeharto. Disini ia  membangkitkan semangat hidup, bertobat dan mencari ridla Allah dalam sisa hidupnya.
    Tetapi atas desakan dari luar negeri terutama Rabithah Alam Islami, ia kemudian dibebaskan, sekaligus mendapat beasiswa untuk S3 dari pemerintah Arab Saudi untuk belajar ke Amerika Serikat. Setelah menyelesaikan S3 pun ia tetap dipersulit untuk kembali ke Indonesia. Tidak hanya itu, organisasi cendekiawan yang digagasnya (yang kemudian bernama ICMI) tidak luput dari upaya-upaya menggagalkannya.

Peran
      Imaduddin adalah pemikir besar seangkatan dengan Nurcholis Madjid. Memang sangat sulit membandingkan antara Nurcholish Madjid dan Imaduddin ini, karena memiliki peran yang sangat penting dalam khazanah keislaman di Indonesia, dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Jika Nurcholish Majid terbentuk dari pendidikan keagamaan yang mulai terbuka mengenal dunia luar, sedang Imaduddin dibesarkan dilingkungan pendidikan sekuler, yang justru mempunyai komitmen keislaman yang tidak pernah diragukan. Yang sama dari mereka berdua adalah mereka turunan ulama, dan merupakan generasi Masyumi kedua (sama-sama anak tokoh Masyumi).
     Jika Nurcholis Majid sangat berperan dalam pembaharuan dilingkungan berbasis keagamaan yang cenderung terbuka, sedang Imaduddin merupakan tokoh unik yang lahir dari sekolah sekuler tetapi dengan komitmen keislaman yang tidak pernah diragukan lagi.  Perannnya sebagai pengajar di lingkungan sekolah terkemuka di Indonesia (Institut Teknologi bandung (ITB)) mempunyai peran yang sangat sentral dalam proses santrinisasi di lingkungan sekolah berbasis sekuler. Penguasaan terhadap ilmu-ilmu sekuler menjadikannya sangat percaya diri dalam mengembangkan wacana keislaman yang lebih puritanik. Jadi dialah sebenarnya tokoh terkemuka dari proses santrinisasi kaum terdidik di Indonesia yang nota bene sangat berperan dalam sisi kehidupan masyarakat.
       Disamping itu, aktifitasnya dalam kaderisasi Islam di kampus yang konsisten dan  sikapnya yang oposan terhadap rezim orde baru (rezim yang berkuasa waktu itu) yang dianggap otoriter (ia pernah di penjara karena sikap oposannya), membuat ia lebih mendapat tempat tersendiri bagi pencari kebenaran di Indonesia. Sehingga dialah yang dianggap orang yang paling mewarnai kelompok muslim terpelajar di Indonesia.

Karya
  • Kuliah Tauhid. Buku ini sangat terkenal dizamannya sebagai pedoman pengkaderan. 
  • Islam Sistem  Nilai Terpadu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar